Wednesday, December 23, 2009

MERAWAT RADIO JADUL KUNO ANTIK


Punya radio tabung?
Kumplit, utuh, nyala! Pasti hati senang, taruh di atas bufet, pajang buat tamu yang datang...nyalakan untuk undang decakan. Nahh berikut tips biar radio warisan embah itu sehat dan aman:







1. Kontrol panas dan lingkungan sekitar

Saat radio tabung dibikin--IMHO--tidak didisain untuk mendengarkan siaran 24 jam. Jaman dahulu stasiun radio mungkin siaran 10 jam per hari malah mungkin kurang. Agaknya panas belum menjadi isu kala itu. Setelah skian tahun dinyalakan tiap hari ternyata panas berdampak juga terutama ke komponen2 pendukung seperti R, C, L dan trafo2nya. Ditambah lagi tingkat kelembaban yang tinggi.
Untuk meminimalisir perhatikan peletakan radio tabung, jangan sampai tutup belakang yg berlubang-lubang ventilasi itu terhalang/tertutupi benda lain semisal ditaruh mepet ke tembok. Sediakan cukup ruang untuk bernafas. Hindari kelembaban dengan tidak menaruh di luar ruangan yg berpotensi kena sinar matahari langsung dan lembab hujan/cuaca luar. Hindari radio berdebu atau menjadi sarang laba2 bagian dalamnya, debu akan cepat merusak koil dan komponen lainnya.

2. Rutin diajak nyanyi
Pastikan radio DINYALAKAN SECARA TERATUR, bukan didiamkan begitu saja bertahun-tahun layaknya benda mati. Tapi jangan pula berlebihan semisal dipaksa nonstop 24 jam, cukup 2-3jam/hari atau terserah, yang penting radio diaktifkan secara teratur. Banyak kasus radio dibeli nyala lalu lama didiamkan bertahun tahun akhirnya mati tanpa sebab yg jelas.

3. Jangan perlakukan kasar
Jangan perlakukan radio seperti perangkat modern yang bisa kita nyala matikan-nyala matikan tanpa kawtir merusak. Radio tabung setidaknya membutuhkan 10-20 detik agar listrik terkumpul dan menyalakan filamen tabung. Jika radio belum lagi penuh bersuara LALU DIMATIKAN DAN LANGSUNG DINYALAKAN LAGI maka arus listrik akan balik menghantam filamen perata di bagian belakang. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka perata tewas dng sukses. Ini merupakan penyakit yang umum pda RADIO ROTI yg tidak memiliki trafo itu.
Ini juga berlaku pada knob gelombang (dial tuning) dan saklar2 yg ada termasuk pengatur volume. Bayangkan jika main kasar pijit sana sini, putar2 kasar gelombang, cetak cetek saklar.....wah mau dimana nyari komponen penggantinya jika rusak?? Kesulitan terbsar saat reparasi adalah mencari pengganti komponen depan semisal Potensio bersaklar dan knob2 per. Pemecahannya cuma satu:kanibal. Dan itu mahal.

4. Awas, bahaya kesetrum!
Ini khusus RADIO ROTI. Kita tahu colokan listrik Indonesia ada dua, kanan-kiri, tergantung memasangnya maka selalu ada dua bagian yakni (+) dan ground. Pada radio roti yang menjadi ground adalah RANGKA MESIN, sehingga jika kita terbalik memasang colokannya maka RANGKA MESIN menjadi (+), alias bagian yang MEMATIKAN jika dipegang. Seluruh besi yg terhubung dng rangka mesin mulai dari skrup sampai batang potensio akan berpotensi menyalurkan arus kejut.
Cara menghindari sederhana saja. Mula-mula nyalakan saklar ke on. Jangan sentuh komponen besi yang ada di radio, bagian manapun. Pegang tespen lalu colokkan jack radio ke listik PLN. Lalu sentuh bagian besi radio dg tespen, semisal rangka mesin via tutup belakang. Jika tespen menyala berarti colokan TERBALIK PASANGNYA. Copot jack dan beri tulisan semisal ATAS atau BAWAH. Sekrang kita tahu bagian mana yang harus disebelah atas dan bawah dari jack radio saat dicolokkan ke tembok.
Selain radio roti yg berbahaya adalah radio philips tipe bx376a alias radio KOMPAS dan Telefunken BRISTOL, keduanya menggunakan rangka mesin sebagai ground. Selalu pastikan untuk menandai jack radio bagian mana yang bawah dan mana yang atas.

Selamat bernostalgia.


Sumber : forum.detik.com

1 comments:

dfian said...

gak punya radio jadul nih...

Post a Comment

Mohon tinggalkan jejak Sobat, dengan memberikan komentar. Trimakasih.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting